banner 468x60

Sekilas Tentang FBR, Refleksi Milad Ke-16

KOMUNITAS 0

Foto: Istimewa

“Perjuangan FBR untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat Betawi, yang selama ini tertindas secara struktural ataupun kultural”

 

 

Jakarta (BeritaTimoer.com) – Salam rempug, kehadiran Forum Betawi Rempug (FBR) memperkaya teori sejarawan terkenal Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo tentang “sejarah sosial”, di mana sejarah tercipta bukan semata-mata karena faktor politik, tetapi lebih disebabkan oleh faktor-faktor sosial.

Pada awalnya beberapa ulama muda Betawi (seperti KH. A. Fadloli el-Muhir dan KH. Lutfi Hakim, MA) tidak ingin kasus yang terjadi pada suku Aborigin di Australia menimpa masyarakat Betawi. Atau kasus yang terjadi pada suku Indian di Amerika dialami bangsa Indonesia. Kalau kedua kasus tersebut juga terjadi, bagaimana citra bangsa ini ke depan?

Oleh karena itu, perjuangan FBR untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat Betawi, yang selama ini tertindas secara struktural ataupun kultural, merupakan bagian untuk menjaga martabat bangsa agar jangan sampai negara yang kaya dengan pulau dan etnis ini memperlakukan suatu suku yang ada di dalamnya menjadi inferior, sehingga dapat menimbulkan kecemburuan dan kerawanan sosial.

Sebagai bangsa yang besar, Indonesia harus berusaha menghargai dan menempatkan suku-suku dan entitas yang ada dalam masyarakatnya sejajar satu sama lain untuk bisa mengembangkan kearifan lokal dan (sekaligus) memperkaya khazanah bangsa yang majemuk. Adalah suatu kesalahan, bila suatu bangsa yang besar semacam Indonesia justru memarjinalkan entitas masyarakat, apalagi putra daerah, dalam mengembangkan kearifan lokal, yang pada gilirannya akan memunculkan benih-benih permusuhan.

Dalam memberdayakan masyarakat suatu daerah, tidak hanya membutuhkan suatu kebijakan yang berpihak pada mereka, akan tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah mempersiapkan mental masyarakat itu untuk memiliki harga dan kepercayaan diri supaya siap berkompetisi secara bebas dengan karifan lokal yang dimilikinya, sehingga mereka mampu menjadi lokomotif kemajuan bagi daerahnya.

Berangkat dari pemikiran tersebut di atas, maka dibentuklah suatu wadah yang menampung dan memperjuangkan aspirasi masyarakat Betawi, berazaskan Islam serta berlandaskan Al-Qur’an, As-Sunnah, Pancasila dan UUD 1945, yang kemudian dikenal dengan nama: Forum Betawi Rempug yang disingkat FBR.

Misi FBR :
1. Membina hubungan persaudaraan yang kokoh di antara sesama masyarakat Betawi dan yang lainnya demi terciptanya kehidupan yang aman, nyaman, dan damai serta bahagia di dunia dan akhirat.

2. Membina hubungan kerjasama dengan Pemerintah dan komponen lainnya dalam melaksanakan pemberdayaan masyarakat demi tercapainya kesejahteraan sosial.

3. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat Betawi melalui pendidikan dan ketrampilan serta pembukaan lapangan kerja.

4. Meningkatkan peran masyarakat Betawi dalam berbagai aspek kehidupan.

5. Melestarikan dan mengembangkan seni budaya Betawi sebagai bagian dari kebudayaan nasional.

6. Menegakkan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar.

Karakteriktik FBR:
Jangan kamu kira kerempugan datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Kerempugan adalah kesesuaian jiwa, dan jika itu tidak pernah ada, maka kerempugan tidak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun, bahkan abad.

Forum Betawi Rempug, biasa disingkat FBR, adalah komunitas karakter yang berkembang dari komunitas pengalaman bersama. Faktor utama yang merempugkan anggota-anggotanya adalah pengalaman ketertindasan, pengalaman ketidakadilan yang diderita bersama, atau pengalaman berbagai macam kekejaman dan penghinaan orang lain yang dialami bersama. Pengalaman tersebut menyadarkan manusia Betawi tentang harkat kemanusiaan bersama, harkat manusia Betawi yang menjadikan kerempugan sebagai karakternya.

Kerempugan merefleksikan suatu kesatuan dalam keragaman ibarat pelangi yang indah dalam kehidupan, dan kebaruan dalam kesilaman. Ibarat anggur lama dalam botol baru atau gugusan masyarakat lama dalam organisasi baru. Satu dalam semua, semua dalam satu. Kesatuan tidak dapat eksis tanpa perbedaan, mayoritas tak bisa hadir tanpa minoritas.

Selain itu, kerempugan adalah sumber energi dan perasaan yang mendalam, yang menuntut setiap anggota FBR untuk belajar, menciptakan kerjasama, memimpin dan melayani sebagai wujud kekhalifahannya di muka bumi. Dengan kerempugan diharapkan timbul kesadaran untuk membuka diri penuh cinta untuk yang lain, serta ketabahan untuk menghadapi ketidakpastian di tingkat permukaan hidup sehari-hari.

Dalam Kerempugan diperlukan adanya prinsip Imamah, yaitu konsepsi kerempugan tentang kebetawian di bawah satu atap, yang menempatkan Imam FBR bukan saja sebagai sumbu lingkaran ruang dan waktu tempat keluarga besar FBR berputar, tapi juga pusat bagi seluruh persaudaraan kaum Betawi.

Keanggotaan FBR
Keanggotaan FBR tersebar di seluruh Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan biasa disebut Mujahid Kerempugan.

Agama yang dianut anggota FBR adalah agama mayoritas masyarakat Betawi, yaitu Islam dan bermazhab Ahlussunnah wal jamaah. Selain itu, terdapat juga anggota yang berkeyakinan berbeda, seperti Katholik, Protestan, Hindu dan Budha. Hal ini mencerminkan bahwa keberadaan FBR adalah rahmat bagi semesta alam.

Tambahan lagi, dengan keanggotaannya yang majemuk, FBR kerap membangun keharmonisan dan kerukunan inter dan antar umat beragama.

Demikianlah sekilas tentang organisasi Forum Betawi Rempug (FBR) beserta peran dan kiprahnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Happy Milad FBR

 

Penulis: Eddy Suroso

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply